Di kota industri seperti Bekasi, menjaga kualitas sumber daya air dari pencemaran adalah tugas yang sangat berat namun sangat mendesak untuk dilakukan. Sebagai bentuk kepedulian terhadap kelestarian ekosistem air lokal, HAKLI cabang Bekasi mengajak masyarakat untuk lebih melek teknologi sanitasi melalui program Tes Kualitas Air BOD/COD. Ini adalah sebuah aksi warga yang terorganisir untuk memantau sejauh mana tingkat pencemaran air di sungai atau saluran air sekitar permukiman, sehingga setiap indikasi kerusakan lingkungan dapat dideteksi sejak dini sebelum menimbulkan dampak kesehatan yang fatal bagi penduduk sekitar.
Biochemical Oxygen Demand (BOD) dan Chemical Oxygen Demand (COD) adalah parameter teknis yang sangat penting untuk mengetahui seberapa besar beban pencemaran organik dalam air. HAKLI Bekasi memberikan pelatihan kepada para sukarelawan warga mengenai cara mengambil sampel air dan menggunakan alat tes portabel yang mudah dioperasikan. Awalnya, warga merasa asing dengan istilah-istilah medis tersebut, namun dengan bimbingan dari para ahli HAKLI, mereka mulai memahami bahwa angka-angka tersebut adalah “kesehatan” dari sungai mereka sendiri.
Dalam aksi warga ini, masyarakat turun langsung ke lapangan untuk mengambil sampel air di titik-titik yang dicurigai sebagai sumber pencemaran, baik itu dari limbah industri maupun pembuangan domestik yang tidak terolah. Hasil tes ini kemudian dicatat secara mendetail dan dipetakan. Jika ditemukan kadar BOD atau COD yang melampaui ambang batas aman, maka data tersebut akan menjadi dasar yang kuat bagi komunitas untuk mengajukan protes resmi atau permintaan intervensi kepada pihak perusahaan atau pemerintah daerah yang bertanggung jawab atas pengelolaan lingkungan di wilayah tersebut.
Pendekatan ini sangat efektif untuk meminimalisir perselisihan yang tidak berdasar. Sering kali, warga hanya menduga-duga adanya pencemaran tanpa bukti yang cukup kuat. Dengan adanya hasil laboratorium lapangan yang terukur, warga memiliki bukti empiris untuk melakukan advokasi. Bekasi kini memiliki jaringan pengawas lingkungan yang berbasis data ilmiah, sehingga setiap upaya penanganan pencemaran dilakukan berdasarkan fakta lapangan yang riil. Hal ini meningkatkan efisiensi dalam memperbaiki kualitas air di sungai-sungai yang melintasi pemukiman warga.
