Bekasi sebagai salah satu kota penyangga Jakarta menghadapi tantangan sanitasi yang sangat kompleks akibat pertumbuhan penduduk yang sangat masif. Di banyak wilayah, terutama pada kawasan pemukiman padat, ketersediaan lahan untuk membangun fasilitas pembuangan limbah domestik yang memenuhi standar kesehatan menjadi barang mewah. Banyak warga yang terpaksa membangun tangki septik ala kadar yang berdekatan dengan sumber air tanah, atau bahkan membuang limbah langsung ke saluran drainase. Menanggapi kondisi kritis ini, Hakli Bekasi mendorong penerapan septic tank komunal sebagai langkah revolusioner untuk memutus rantai pencemaran lingkungan di tingkat rumah tangga.
Masalah utama di lahan yang sempit adalah risiko kontaminasi bakteri E. coli pada sumur dangkal milik warga. Jika setiap rumah memaksakan membangun tangki septik sendiri di lahan yang hanya beberapa meter persegi, jarak aman antara lubang pembuangan dan sumber air tidak akan pernah tercapai. Oleh karena itu, konsep tangki septik bersama atau komunal menjadi sangat relevan. Dengan sistem ini, limbah dari beberapa rumah dialirkan melalui pipa menuju satu unit pengolahan besar yang dilengkapi dengan teknologi filter biologi. Hakli Bekasi berperan dalam memberikan asistensi teknis mengenai perhitungan kapasitas dan penempatan instalasi agar tidak mengganggu aktivitas sosial warga.
Penerapan solusi ini tidak hanya memberikan dampak positif bagi kesehatan lingkungan, tetapi juga dari sisi ekonomis. Biaya pembangunan dan pemeliharaan satu unit pengolahan limbah yang digunakan bersama jauh lebih efisien dibandingkan jika setiap warga harus membangun dan menyedot tangki septik secara mandiri setiap beberapa tahun sekali. Dalam sistem komunal, teknologi yang digunakan biasanya melibatkan proses anaerobik dan aerobik yang lebih canggih, sehingga air hasil olahan (effluent) yang keluar sudah jauh lebih bersih dan tidak lagi mencemari air tanah maupun badan sungai di sekitar pemukiman.
Namun, tantangan terbesar dalam menjalankan program ini sering kali bukan pada aspek teknis, melainkan pada aspek sosial dan koordinasi antarwarga. Hakli Bekasi aktif melakukan sosialisasi untuk membangun kesadaran kolektif bahwa sanitasi adalah tanggung jawab bersama. Mereka mengedukasi masyarakat bahwa satu rumah yang tidak memiliki sistem sanitasi layak dapat membahayakan kesehatan seluruh tetangga di sekitarnya. Dengan adanya dukungan dari pemerintah daerah melalui dana stimulan atau hibah infrastruktur, pembangunan tangki septik bersama ini dapat menjadi standar baru bagi penataan kampung kota yang lebih manusiawi dan higienis.
