Ancaman terbesar yang ditimbulkan oleh Pemanasan Global melampaui kenaikan permukaan air laut dan cuaca ekstrem; ia memicu gelombang kepunahan massal spesies yang belum pernah terjadi sejak era kepunahan dinosaurus. Perubahan iklim yang cepat ini menempatkan tekanan adaptif yang luar biasa pada keanekaragaman hayati Bumi. Ketika habitat berubah terlalu cepat bagi spesies untuk berevolusi atau bermigrasi, kelangsungan hidup mereka terancam punah. Memahami bagaimana Pemanasan Global mempercepat hilangnya spesies adalah langkah pertama untuk mengembangkan strategi konservasi yang efektif. Laporan Global Biodiversity Assessment yang diterbitkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 10 Maret 2025, memperkirakan bahwa hingga satu juta spesies tumbuhan dan hewan menghadapi ancaman kepunahan dalam beberapa dekade mendatang, sebagian besar disebabkan oleh hilangnya habitat yang diperburuk oleh perubahan iklim.

Mekanisme kepunahan yang didorong oleh Pemanasan Global sangat kompleks, namun dapat dikelompokkan menjadi dua kategori utama: tekanan fisiologis dan gangguan ekologis. Tekanan fisiologis terjadi ketika kenaikan suhu melebihi batas toleransi biologis suatu spesies. Contoh paling nyata terjadi pada ekosistem terumbu karang. Peningkatan suhu air laut menyebabkan fenomena pemutihan (bleaching), di mana karang mengeluarkan ganggang simbiosisnya, yang merupakan sumber nutrisi utama mereka. Dalam lima tahun terakhir (2020-2025), Badan Pemantauan Terumbu Karang mencatat peristiwa pemutihan massal di seluruh wilayah Pasifik, dengan tingkat kematian karang mencapai 50% di beberapa lokasi pengamatan utama pada akhir musim panas tahun 2024.

Gangguan ekologis terjadi ketika perubahan iklim merusak interaksi antarspesies yang penting untuk kelangsungan hidup. Misalnya, perubahan waktu mekarnya bunga (fenologi) akibat suhu yang lebih hangat dapat tidak selaras dengan waktu migrasi atau kelahiran serangga penyerbuk. Jika penyerbuk tiba terlambat, tanaman tidak dapat bereproduksi, dan rantai makanan di mana keduanya terlibat akan terputus. Fenomena ini sangat jelas terlihat di wilayah Arktik, di mana Pemanasan Global yang paling cepat terjadi, mengubah pola es yang merupakan habitat vital bagi anjing laut dan beruang kutub. Sebuah studi konservasi yang diselesaikan pada Desember 2024 menunjukkan bahwa populasi beruang kutub di salah satu subpopulasi utama telah menurun 30% karena berkurangnya es laut untuk berburu.

Untuk melawan ancaman ini, diperlukan respons konservasi yang adaptif dan terkoordinasi. Upaya harus mencakup penetapan zona perlindungan baru yang dirancang sebagai “koridor migrasi iklim,” memungkinkan spesies untuk bergerak ke habitat yang lebih dingin seiring dengan perubahan suhu. Selain itu, penegakan hukum terhadap perdagangan satwa liar ilegal dan perusakan habitat harus diperkuat. Pada hari Selasa, 1 Mei 2025, Kepolisian Hutan dan Lingkungan menangkap empat tersangka yang terlibat dalam perdagangan spesies langka di wilayah perbatasan, menggarisbawahi upaya nyata untuk melindungi spesies yang sudah tertekan oleh Pemanasan Global. Ancaman kepunahan massal ini adalah pengingat bahwa perlindungan keanekaragaman hayati tidak dapat dipisahkan dari perjuangan melawan krisis iklim.