Dalam upaya global mengurangi plastik, perhatian sering terfokus pada benda-benda besar seperti botol dan kantong kresek. Namun, ancaman lingkungan yang jauh lebih persisten dan sulit diatasi datang dari kemasan skala kecil, khususnya sachet. Kemasan sachet (bungkus sekali pakai) untuk produk seperti sampo, kopi instan, dan deterjen, menimbulkan tantangan besar dalam pengelolaan sampah karena sifatnya yang multi-layer dan nilai daur ulang yang sangat rendah. Upaya mengurangi plastik harus secara spesifik menargetkan sachet karena volume penggunaannya yang masif dan strukturnya yang hampir mustahil untuk didaur ulang secara ekonomis. Jika kita gagal mengurangi plastik jenis ini, lautan dan TPA kita akan terus dijejali oleh sampah kecil yang abadi.
Struktur Sachet: Sebuah Hambatan Daur Ulang
Masalah utama sachet terletak pada desain materialnya. Sachet dibuat dari lapisan-lapisan tipis yang terbuat dari bahan berbeda, seperti plastik, aluminium foil, dan polimer. Kombinasi material ini bertujuan untuk menjaga kesegaran produk di dalamnya dengan biaya produksi yang sangat rendah.
Sayangnya, struktur multi-layer ini membuat sachet menjadi sampah non-ekonomis untuk didaur ulang. Proses pemisahan lapisan-lapisan ini secara mekanis atau kimiawi sangat mahal dan membutuhkan energi yang besar, melebihi nilai jual material daur ulang yang dihasilkan. Akibatnya, sebagian besar sachet berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) atau, lebih buruk lagi, mencemari lingkungan.
Data menunjukkan bahwa di banyak negara berkembang, sachet menyumbang persentase signifikan dari total sampah plastik. Survei oleh Konsorsium Daur Ulang Mandiri pada tahun 2024 menemukan bahwa kurang dari $1\%$ dari seluruh sachet bekas berhasil didaur ulang kembali menjadi produk baru.
Sachet dan Ketidakmampuan Individu Mengelola Sampah
Sifat sachet yang kecil juga memperburuk masalah pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga. Karena ukurannya yang kecil, sachet seringkali tercecer, jatuh ke selokan, atau tersapu ke sungai, menjadi mikroplastik potensial di lautan. Bahkan ketika dibuang ke tempat sampah, sachet sulit untuk dipilah secara efektif di TPA atau fasilitas daur ulang.
Tantangan untuk mengurangi plastik jenis sachet memerlukan perubahan perilaku konsumen yang signifikan:
- Kembali ke Isi Ulang (Refill): Konsumen perlu didorong untuk membeli produk dalam kemasan yang lebih besar atau menggunakan toko yang menyediakan layanan isi ulang.
- Menolak Produk Sachet: Sebisa mungkin, pilihlah produk yang dijual dalam kemasan botol atau wadah yang nilai daur ulangnya tinggi (seperti PET atau HDPE).
Peran Produsen dan Kebijakan
Tanggung jawab untuk mengurangi plastik jenis ini tidak hanya terletak pada konsumen, tetapi juga pada produsen dan pemerintah. Produsen perlu berinvestasi dalam penelitian untuk menciptakan kemasan mono-material (hanya terdiri dari satu jenis plastik) yang lebih mudah didaur ulang atau sistem pengembalian kemasan (take-back scheme).
Pemerintah juga dapat berperan, misalnya dengan menetapkan regulasi ketat. Dalam konteks lokal, otoritas terkait dapat mengeluarkan peraturan yang mendorong ritel untuk beralih ke format isi ulang, didukung oleh pengawasan dari Dinas Perdagangan. Tanpa kolaborasi antara konsumen, produsen, dan regulator, sachet akan terus menjadi simbol tantangan terbesar dalam perang melawan sampah plastik.
