Setelah melewati masa pemulihan panjang pasca-bencana gempa, tsunami, dan likuifaksi tahun 2018, Kota Palu kini telah berkembang dengan berbagai kompleks Hunian Tetap (Huntap). Namun, tantangan baru muncul seiring dengan stabilnya pemukiman tersebut, yaitu pemastian keberlanjutan kualitas air bersih huntap. Mengingat struktur tanah di Palu telah mengalami perubahan mekanis dan hidrologis yang signifikan, HAKLI Palu secara konsisten melakukan evaluasi berkala untuk menjamin bahwa air yang mengalir ke rumah-rumah warga huntap bebas dari kontaminasi zat berbahaya dan mikroorganisme patogen.

Evaluasi yang dilakukan oleh HAKLI Palu mencakup pemeriksaan parameter fisik, kimia, dan biologi air secara mendalam. Di beberapa lokasi pemukiman pasca-bencana, sumber air berasal dari sumur bor dalam atau sistem perpipaan terpadu yang melintasi zona-zona rawan. Tantangan utamanya adalah adanya potensi rembesan dari sistem pembuangan limbah domestik ke dalam cadangan air tanah akibat retakan-retakan kecil pada struktur bawah tanah yang terjadi saat bencana. HAKLI melakukan uji laboratorium rutin untuk memantau kadar nitrat, logam berat, serta keberadaan bakteri coliform. Hasil evaluasi ini sangat penting untuk mencegah terjadinya penyakit kronis akibat konsumsi air yang tidak memenuhi syarat kesehatan.

Selain aspek kualitas sumber air, HAKLI juga menyoroti kondisi jaringan distribusi air di dalam kompleks Huntap. Kebocoran pada pipa distribusi tidak hanya menyebabkan kehilangan air secara kuantitas, tetapi juga menjadi jalan masuk bagi polutan dari tanah sekitar. Di tahun 2026, HAKLI Palu mendorong penggunaan teknologi sensor pemantau kualitas air secara mandiri di tingkat komunitas. Warga huntap diajarkan cara sederhana untuk mendeteksi perubahan kualitas air secara visual maupun melalui alat ukur TDS (Total Dissolved Solids) portabel. Partisipasi masyarakat menjadi garda terdepan dalam menjaga keamanan air minum di lingkungan mereka sendiri.

Fokus evaluasi juga diarahkan pada pemeliharaan tangki penampungan air komunal dan bak penampung di tingkat rumah tangga. Penumpukan sedimen dan lumut pada tangki yang jarang dikuras dapat menjadi tempat berkembang biaknya jentik nyamuk dan bakteri. HAKLI memberikan panduan mengenai jadwal pengurasan dan desinfeksi berkala menggunakan klorin dengan dosis yang aman. Di wilayah Palu yang memiliki suhu udara cukup tinggi, pertumbuhan mikroba di dalam air yang diam cenderung lebih cepat, sehingga pengawasan terhadap sisa klor (residual chlorine) pada ujung keran warga menjadi salah satu poin penilaian utama dalam audit kesehatan lingkungan ini.