Bekasi, sebagai kota penyangga ibu kota yang mengalami pertumbuhan populasi dan industri yang pesat, kini dihadapkan pada Krisis Air Bersih yang semakin akut. Masalah ini tidak hanya terkait dengan kuantitas pasokan air, tetapi yang lebih mengkhawatirkan, adalah degradasi serius pada Kualitas Air Minum yang diakses oleh masyarakat. Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) cabang Bekasi mendesak Pemerintah Daerah untuk segera mengambil tindakan tegas dan terukur, karena masalah ini telah menjadi ancaman serius bagi kesehatan publik.
Krisis Air Bersih di Bekasi bersumber dari dua faktor utama: eksploitasi air tanah yang berlebihan oleh industri dan rumah tangga, serta parahnya pencemaran di sungai-sungai utama yang menjadi sumber air baku. HAKLI telah melakukan pengujian kualitas air di beberapa titik sumur dangkal dan menemukan kandungan logam berat, deterjen, serta bakteri E. coli yang melebihi ambang batas aman. Kontaminasi ini berasal dari rembesan limbah industri yang tidak terkelola dengan baik dan sistem sanitasi individual yang buruk. Akibatnya, masyarakat yang masih mengandalkan air tanah menghadapi risiko tinggi terhadap penyakit berbasis air.
HAKLI Bekasi menegaskan bahwa penanggulangan Krisis Air Bersih harus dimulai dari penegakan standar Kualitas Air Minum yang ketat. Rekomendasi HAKLI yang mendesak adalah audit lingkungan secara menyeluruh terhadap semua perusahaan industri yang berpotensi membuang limbah cair ke sungai atau tanah. Perluasan dan optimalisasi jaringan air perpipaan PDAM juga harus menjadi prioritas, dengan syarat bahwa air yang didistribusikan harus dijamin Kualitas Air Minum-nya melalui proses pengolahan yang mutakhir dan pemantauan berkala. Ketergantungan masyarakat pada air tanah harus segera dikurangi.
Lebih lanjut, untuk mengatasi Krisis Air Bersih, HAKLI merekomendasikan Pemda Bekasi untuk memberlakukan zona perlindungan air baku (water source protection zone) di sekitar sungai utama dan sumber resapan air. Zonasi ini harus disertai dengan program restorasi lingkungan, seperti penanaman pohon di sepanjang bantaran sungai untuk mengurangi erosi dan penyaringan polutan alami. Aspek edukasi juga penting; masyarakat harus diajarkan tentang konservasi air dan cara mendeteksi ciri-ciri air yang tercemar.
HAKLI Bekasi menekankan bahwa Krisis Air Bersih dan masalah Kualitas Air Minum adalah masalah multidimensional yang membutuhkan komitmen politik jangka panjang. Tindakan darurat dan regulasi yang ketat terhadap pencemaran adalah kunci untuk memastikan setiap warga Bekasi dapat menikmati hak fundamental mereka atas air bersih yang aman dan sehat, sebelum krisis ini mencapai titik yang tidak dapat diperbaiki.
