Isu sampah plastik di lautan telah menjadi perhatian global, tetapi ancaman yang lebih tersembunyi, musuh tak kasat mata yang kini mengancam isi piring kita, adalah mikroplastik. Kenali Mikroplastik sebagai fragmen plastik berukuran sangat kecil, didefinisikan sebagai partikel dengan panjang kurang dari 5 milimeter. Partikel-partikel ini berasal dari berbagai sumber, mulai dari penguraian sampah plastik yang lebih besar (secondary microplastics) hingga microbeads yang sengaja ditambahkan dalam produk kosmetik dan scrub (primary microplastics). Karena ukurannya yang super kecil, mereka mudah menyebar ke seluruh lingkungan, memasuki rantai makanan, dan pada akhirnya, masuk ke tubuh manusia.
Penyebaran mikroplastik sangat masif dan sulit dikendalikan. Salah satu sumber utama adalah serat sintetis dari pakaian poliester. Setiap kali kita mencuci pakaian berbahan sintetis di mesin cuci, ribuan serat mikroplastik dilepaskan bersama air limbah. Sistem pengolahan air limbah konvensional tidak dirancang untuk menyaring partikel sekecil ini, sehingga mereka dengan mudah mengalir ke sungai dan berakhir di lautan. Sebuah studi yang diterbitkan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), yang kini terintegrasi dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), pada awal tahun 2024, mengindikasikan bahwa sedimen di Sungai Citarum mengandung konsentrasi mikroplastik yang sangat tinggi, dengan dominasi serat tekstil.
Lalu, bagaimana mikroplastik ini sampai ke piring kita? Ada dua jalur utama. Pertama, melalui biota laut. Organisme laut terkecil, seperti plankton, mengonsumsi partikel mikroplastik ini, mengira mereka adalah makanan. Proses ini dikenal sebagai trophic transfer, di mana partikel tersebut berpindah dari organisme kecil ke ikan yang lebih besar, dan akhirnya, ke ikan yang kita tangkap dan konsumsi. Hasil riset dari Universitas Diponegoro (UNDIP) pada bulan Juni 2025 menunjukkan bahwa hampir 80% sampel ikan pelagis yang diambil dari perairan utara Jawa Tengah mengandung partikel mikroplastik di saluran pencernaannya.
Jalur kedua adalah melalui produk sehari-hari seperti garam laut, madu, dan bahkan air minum kemasan. Partikel plastik yang mengambang di udara juga dapat mencemari makanan kita saat proses pengolahan atau penyajian. Inilah alasan mengapa penting untuk segera Kenali Mikroplastik sebagai bahaya yang melampaui isu sampah visual. Dampak kesehatan jangka panjang dari konsumsi mikroplastik masih dalam penelitian intensif, tetapi kekhawatiran utama adalah bahwa mikroplastik dapat menyerap dan membawa zat kimia beracun yang ada di lingkungan, seperti PCB dan DDT, ke dalam tubuh kita.
Untuk mengurangi ancaman ini, perlu ada tindakan di berbagai tingkatan. Di tingkat individu, kita harus berusaha Kenali Mikroplastik dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan membatasi pembelian pakaian berbahan sintetis. Di tingkat industri, perlu ada inovasi pada filter mesin cuci rumah tangga dan peningkatan teknologi penyaringan di instalasi pengolahan air limbah. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui Keputusan Menteri No. 123/2024 pada tanggal 1 Desember 2024 telah memulai kampanye edukasi tentang risiko kontaminasi pangan dari lingkungan yang tercemar mikroplastik, mendesak masyarakat untuk lebih bijak dalam konsumsi dan pembuangan sampah.
Kenali Mikroplastik bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk mendorong perubahan perilaku yang nyata. Hanya dengan mengurangi sumbernya dan meningkatkan kesadaran, kita bisa melindungi kesehatan diri dan ekosistem global dari polusi tak kasat mata ini.
