Hutan mangrove adalah ekosistem pesisir yang luar biasa, dikenal sebagai surga bagi keanekaragaman hayati. Meskipun terlihat seperti hutan biasa, kompleksitas ekosistem ini menjadikannya habitat penting bagi beragam spesies flora dan fauna, mulai dari organisme mikroskopis hingga mamalia besar. Artikel ini akan mengupas kekayaan keanekaragaman hayati yang ada di hutan mangrove.
Akar-akar mangrove yang saling berjalin rapat menciptakan lingkungan unik yang berfungsi sebagai penangkap sedimen, penyaring polutan, dan terutama sebagai nursery ground (tempat pembesaran) bagi banyak spesies laut. Pada tanggal 5 September 2025, dalam laporan hasil penelitian yang dirilis oleh Pusat Penelitian Biologi Laut di Universitas Hasanuddin, Makassar, disebutkan bahwa “ekosistem mangrove menyediakan lebih dari 70% area pembesaran bagi ikan komersial di pesisir.” Sebagai contoh, di Suaka Margasatwa Muara Angke, Jakarta, pada hari Sabtu, 20 September 2025, pukul 08.00 WIB, tim ahli biologi berhasil mengidentifikasi 45 spesies burung berbeda, termasuk beberapa spesies migran langka yang menjadikan area mangrove ini sebagai persinggahan. Observasi ini adalah bagian dari survei rutin yang telah berlangsung sejak awal tahun 2025.
Selain itu, keanekaragaman hayati di hutan mangrove juga mencakup berbagai jenis krustasea (kepiting, udang), moluska (kerang, siput), dan reptil (ular, biawak). Beberapa di antaranya adalah spesies endemik yang hanya dapat ditemukan di ekosistem ini. Di Kawasan Konservasi Mangrove di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, pada hari Minggu, 12 Oktober 2025, pukul 10.00 WIB, warga lokal yang tergabung dalam kelompok nelayan tradisional berhasil menangkap varietas kepiting bakau yang melimpah, menunjukkan vitalitas ekosistem. Hasil tangkapan ini dibantu oleh penyuluhan yang diberikan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan setempat.
Namun, kekayaan keanekaragaman hayati ini rentan terhadap ancaman serius seperti deforestasi untuk lahan tambak atau pemukiman, serta pencemaran limbah. Oleh karena itu, upaya konservasi dan rehabilitasi menjadi sangat penting. Pada tanggal 3 November 2025, di Balai Kota Surabaya, Wali Kota Surabaya meluncurkan program “Satu Juta Bibit Mangrove” yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat dan dunia usaha. Program ini diharapkan dapat memulihkan area mangrove yang rusak dan menjaga keseimbangan ekosistem. Insiden penebangan liar yang pernah terjadi pada tanggal 10 April 2025 di salah satu kawasan mangrove di luar kota, yang memerlukan intervensi petugas kepolisian pada pukul 14.00 WIB, menjadi pengingat betapa krusialnya upaya perlindungan. Melalui pelestarian hutan mangrove, kita tidak hanya melindungi ekosistem yang berharga, tetapi juga memastikan kelangsungan hidup berbagai spesies dan menjaga keseimbangan alam.
