Proyek restorasi lingkungan ini berawal dari keprihatinan mendalam terhadap kondisi Sungai Kusam di Bekasi yang telah lama dianggap sebagai tempat sampah raksasa oleh oknum tak bertanggung jawab. Kandungan polutan yang tinggi dan bau menyengat telah memicu berbagai masalah kesehatan bagi warga yang tinggal di bantarannya. Menanggapi hal ini, tenaga ahli dari HAKLI melakukan audit menyeluruh terhadap setiap titik pembuangan limbah domestik dan industri rumah tangga. Mereka mengusulkan sebuah strategi “Interceptor” limbah, di mana setiap pipa pembuangan warga tidak lagi langsung mengarah ke sungai, melainkan dialirkan ke bak kontrol komunal untuk diolah secara biologis.

Langkah berani untuk Ubah Sungai ini juga melibatkan pemasangan teknologi filtrasi air berbasis alam yang sangat efektif. Menggunakan kombinasi tanaman air penyerap polutan (fitoremediasi) dan sistem aerasi mekanik, kadar oksigen dalam air sungai meningkat drastis. Proses alami ini perlahan mengembalikan kejernihan air dan menghilangkan bau busuk yang selama puluhan tahun menyiksa warga. Keberhasilan teknis ini segera menarik perhatian publik ketika warga mulai melihat ikan-ikan kecil kembali berenang di aliran Sungai Kusam tersebut, menjadikannya topik yang sangat populer di platform media sosial.

Hasil dari kerja sama HAKLI dan Pemkot Bekasi ini kini telah mencapai tahap di mana kualitas air sungai tersebut mulai diproyeksikan sebagai Sumber Air Bersih alternatif bagi kebutuhan non-konsumsi masyarakat sekitar. Melalui sistem penyaringan tambahan di titik-titik pengambilan, warga kini dapat memanfaatkan air tersebut untuk menyiram tanaman, mencuci kendaraan, hingga kebutuhan sanitasi umum. Ini adalah sebuah kemenangan besar bagi kesehatan lingkungan di kota industri seperti Bekasi, di mana ketersediaan air bersih seringkali menjadi barang mahal dan langka.

Edukasi masyarakat menjadi pilar penunjang yang memastikan keberlanjutan proyek yang Viral ini. HAKLI Bekasi aktif melakukan pendekatan kepada komunitas lokal untuk membangun rasa memiliki terhadap sungai tersebut. Satgas kebersihan warga dibentuk untuk memantau agar tidak ada lagi sampah yang dibuang ke aliran sungai. Sinergi antara teknologi sanitasi dan partisipasi sosial ini membuktikan bahwa masalah lingkungan yang paling kronis sekalipun dapat diselesaikan jika ada kemauan politik dari pemerintah dan dukungan teknis dari para ahli profesional di bidangnya.