Sebagai kawasan yang menjadi titik temu antara zona industri raksasa dan pemukiman padat penduduk, Kabupaten serta Kota Bekasi menghadapi risiko polusi tanah yang cukup serius akibat akumulasi limbah berat selama puluhan tahun. Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) wilayah Bekasi baru-baru ini meluncurkan program pengawasan kualitas lahan dengan mengadopsi teknologi sensor dari benua biru. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa tanah yang digunakan untuk pemukiman, taman bermain, hingga lahan pertanian perkotaan bebas dari kontaminasi Merkuri yang berbahaya bagi sistem saraf manusia. Dengan menggunakan teknologi ini, pemetaan zona risiko dapat dilakukan secara presisi dan cepat guna melindungi kesehatan masyarakat Bekasi dalam jangka panjang.
Penerapan teknologi deteksi di berbagai titik pemukiman dan bekas lahan industri ini melibatkan penggunaan perangkat spektrometri portabel yang memiliki akurasi sangat tinggi. Standar Uni Eropa yang diterapkan sangat ketat dalam menentukan ambang batas aman keberadaan unsur kimia berbahaya di dalam lapisan bumi. Di HAKLI Bekasi, para tenaga ahli kesehatan lingkungan mulai melakukan audit lingkungan secara berkala untuk memantau keberadaan zat merkuri yang mungkin terlepas ke lingkungan akibat aktivitas pembuangan ilegal atau kebocoran limbah masa lalu. Penggunaan alat canggih ini memungkinkan deteksi dilakukan langsung di lapangan (in-situ) tanpa harus menunggu hasil laboratorium yang memakan waktu lama, sehingga langkah mitigasi dapat segera diambil oleh pihak berwenang.
Sistem pengawasan kualitas tanah ini juga menjadi dasar bagi pemberian rekomendasi izin pemanfaatan lahan untuk pengembang perumahan. Di HAKLI, fokus utama adalah mencegah paparan zat toksik kepada anak-anak yang sering berinteraksi langsung dengan tanah saat bermain. Dengan adanya standar standar internasional ini, setiap jengkal tanah di wilayah Bekasi harus melalui verifikasi kebersihan lingkungan yang transparan. Perangkat sensor yang gunakan oleh para ahli mampu menembus lapisan permukaan untuk memberikan gambaran profil polutan di bawah tanah secara tiga dimensi. Hal ini memberikan jaminan keamanan bagi warga bahwa tempat tinggal mereka berdiri di atas lahan yang sehat dan tidak menyimpan bom waktu kesehatan di masa depan.
Keberhasilan implementasi program ini menempatkan Bekasi sebagai salah satu daerah di Jawa Barat yang memiliki basis data pencemaran tanah paling komprehensif. Dukungan dari pemerintah daerah memperkuat posisi sekolah dan pusat kesehatan dalam mengedukasi warga mengenai pentingnya menjaga kelestarian bumi dari limbah B3.
