Kualitas fasilitas tempat tinggal pekerja di kawasan padat industri sangat memengaruhi tingkat kesehatan dan produktivitas harian tenaga kerja. Di samping penggunaan foam trap deterjen jaga ekosistem sungai, pemukiman padat pekerja memerlukan perhatian sanitasi. Tim HAKLI Bekasi melakukan evaluasi kelaikan hunian dan kualitas air bersih asrama karyawan untuk mencegah munculnya penyakit menular berbasis pemukiman.
Kondisi asrama yang terlalu padat, minim ventilasi, dan memiliki pencahayaan alami yang buruk berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya penyakit TB paru dan penyakit kulit. Auditor HAKLI mengukur rasio luas kamar dengan jumlah penghuni, tingkat kelembapan udara, serta luas bukaan jendela di setiap ruangan asrama. Kepadatan hunian harus disesuaikan dengan kapasitas standar kesehatan bangunan.
Pemeriksaan kualitas air bersih untuk kebutuhan mandi, cuci, dan konsumsi penghuni asrama dilakukan secara menyeluruh di laboratorium. Parameter fisik seperti warna, bau, dan rasa, serta parameter mikrobiologi seperti keberadaan kuman Coliform diuji dari kran-kran asrama. Pengelola asrama diwajibkan melakukan pembersihan tangki penampung air secara berkala tiga bulan sekali.
Selain ruang tidur dan sarana air, fasilitas saniter seperti rasio jumlah kamar mandi, pengelolaan sampah padat, dan saluran pembuangan air limbah (SPAL) dinilai kelayakannya. Tempat pencucian pakaian dan area jemuran dipastikan mendapatkan paparan sinar matahari yang cukup guna mencegah timbulnya jamur. Lingkungan asrama dipastikan tertata rapi.
Rekomendasi dari evaluasi ini disampaikan kepada manajemen perusahaan pembawa asrama agar segera melakukan perbaikan infrastruktur jika ditemukan ketidaksesuaian standar. Karyawan yang tinggal di asrama sehat dan bersih terbukti memiliki tingkat ketidakhadiran kerja akibat sakit yang sangat rendah. Kesejahteraan pekerja dapat terwujud.
Langkah evaluasi kelaikan hunian dan air bersih asrama karyawan oleh HAKLI Bekasi memverifikasi pentingnya pengawasan sanitasi pemukiman pekerja industri. Tempat tinggal yang laik sehat menjadi pilar pendukung produktivitas industri yang berkelanjutan.
