Sosialisasi ini difokuskan pada pengenalan ciri-ciri jajanan yang menggunakan zat aditif ilegal seperti formalin atau boraks. Produk makanan seperti bakso, mie basah, dan tahu sering kali menjadi sasaran oknum pedagang nakal untuk dicampur dengan bahan pengawet agar tahan lama di suhu ruangan. Tim ahli HAKLI menjelaskan bahwa makanan yang mengandung pengawet berlebihan biasanya memiliki tekstur yang sangat kenyal secara tidak wajar dan tidak mudah hancur. Selain itu, makanan tersebut cenderung tidak dihinggapi oleh lalat dan tidak menunjukkan tanda-tanda kerusakan atau basi meskipun sudah dibiarkan lebih dari satu hari dalam cuaca panas Bekasi yang terik.

Salah satu ancaman yang paling berbahaya adalah penggunaan pengawet tekstil seperti Rhodamin B dan Metanil Yellow untuk memberikan warna yang mencolok pada minuman, saus, atau kerupuk. Bahan pewarna ini sebenarnya diperuntukkan bagi industri kain dan kertas, bukan untuk tubuh manusia. Secara visual, jajanan yang mengandung zat ini memiliki warna yang sangat terang, mencolok, dan sering kali menyisakan noda warna yang sulit hilang pada tangan atau lidah setelah dikonsumsi. Jika dikonsumsi dalam jangka panjang, zat karsinogenik ini dapat memicu kerusakan organ hati, ginjal, hingga menyebabkan kanker pada sistem pencernaan manusia.

Kesadaran warga di wilayah Bekasi untuk lebih jeli dalam memilih makanan merupakan benteng pertahanan utama bagi kesehatan keluarga. HAKLI menyarankan agar para orang tua lebih memilih memberikan bekal rumah atau membeli di tempat yang sudah memiliki reputasi kebersihan yang baik. Pihak sekolah juga diajak untuk melakukan pengawasan terhadap pedagang yang berjualan di sekitar area pendidikan. Melalui pengujian sampel sederhana yang dilakukan secara berkala, keberadaan zat berbahaya dalam jajanan anak dapat ditekan. Pendidikan mengenai keamanan pangan harus dimulai sejak dini agar anak-anak tahu bahwa warna makanan yang terlalu bagus belum tentu aman bagi kesehatan mereka.

Dukungan dari pemerintah kota Bekasi dalam melakukan razia pasar dan pusat kuliner sangat diapresiasi oleh para praktisi kesehatan lingkungan. Namun, penegakan hukum saja tidak cukup tanpa adanya edukasi kepada para produsen makanan skala kecil. HAKLI Bekasi juga memberikan pelatihan bagi pengusaha rumah tangga mengenai bahan pengganti pengawet yang aman dan alami, seperti penggunaan garam, gula, atau proses pengemasan vakum. Dengan memberikan alternatif solusi, diharapkan para pedagang tidak lagi menggunakan bahan kimia ilegal demi mengejar keuntungan semata namun mengorbankan keselamatan nyawa orang lain.