Oli bekas mengandung logam berat seperti timbal, kadmium, dan kromium, serta zat kimia sisa pembakaran yang bersifat karsinogenik. Dalam edukasi yang diberikan oleh HAKLI Bekasi, dijelaskan bahwa satu liter oli bekas yang dibuang ke saluran air dapat mencemari satu juta liter air bersih. Logam berat ini tidak dapat terurai secara alami dan akan mengendap di dasar saluran. Inilah alasan utama mengapa warga harus memahami cara tepat kelola limbah cair tersebut agar tidak langsung dibuang ke saluran pembuangan atau got.
Ketika oli masuk ke drainase, ia membentuk lapisan film di permukaan air yang menghalangi masuknya oksigen. Hal ini menyebabkan mikroorganisme yang berfungsi sebagai pembersih alami air mati, sehingga got menjadi berbau busuk dan airnya menghitam. Lebih berbahaya lagi, zat kimia dalam oli bekas dapat merembes ke dalam tanah dan mencemari sumur dangkal milik warga. HAKLI menekankan bahwa pembuangan oli ke lingkungan adalah pelanggaran serius terhadap kesehatan lingkungan yang dampaknya akan dirasakan oleh anak cucu di masa depan.
Mekanisme Pengelolaan dan Penampungan yang Aman
HAKLI Bekasi memberikan panduan praktis bagi pemilik bengkel dan masyarakat umum mengenai sistem penampungan sementara yang aman. Oli bekas harus disimpan dalam wadah tertutup yang tidak bocor dan diletakkan di area yang memiliki lantai kedap air guna mencegah ceceran. Masyarakat dilarang keras menggunakan oli bekas untuk membakar sampah atau melumuri kayu agar tahan rayap, karena zat racunnya tetap akan menguap dan terhirup. Cara terbaik adalah mengumpulkan limbah tersebut untuk diserahkan kepada pengumpul resmi yang memiliki izin pengolahan limbah B3.
Melalui program ini, HAKLI Bekasi juga mendorong pemerintah kota untuk memperbanyak titik penjemputan limbah otomotif bagi bengkel-bengkel kecil. Dengan adanya sistem yang terintegrasi, pelaku usaha tidak lagi tergiur untuk membuang limbahnya secara ilegal ke selokan. Edukasi ini diharapkan mampu mengubah perilaku masyarakat agar lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan perairan. Dengan pengelolaan limbah yang disiplin, Bekasi dapat mengurangi beban polusi pada sungai-sungai utamanya dan menjaga kualitas air tanah tetap layak konsumsi.
