Aktivitas pertambangan emas skala kecil sering kali menjadi tumpuan ekonomi masyarakat di beberapa wilayah sekitar Mataram, Nusa Tenggara Barat. Namun, penggunaan bahan kimia berbahaya dalam proses pemisahan emas, seperti air raksa, menimbulkan ancaman lingkungan yang sangat serius dan sulit dideteksi secara visual. Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) wilayah Mataram melakukan langkah antisipatif dengan melaksanakan riset lapangan mengenai Dampak Merkuri pada Sumur penduduk. Program ini dirancang untuk memetakan sejauh mana rembesan limbah tambang telah mencemari sumber air tanah yang digunakan warga untuk kebutuhan sanitasi dan konsumsi sehari-hari.

Merkuri adalah logam berat yang bersifat neurotoksik dan dapat terakumulasi di dalam tubuh manusia melalui air minum atau rantai makanan. HAKLI di Mataram memfokuskan kegiatannya pada pengambilan sampel air sumur di pemukiman yang berbatasan langsung dengan area pengolahan emas (gelondong). Melalui metode Uji Air laboratorium yang sangat sensitif, para ahli kesehatan lingkungan berupaya mendeteksi keberadaan merkuri dalam satuan mikrogram per liter. Fokus utama dari riset ini adalah mencegah terjadinya keracunan merkuri kronis, yang gejalanya sering kali mirip dengan penyakit saraf biasa, sehingga sering terlambat ditangani oleh tim medis.

Penelitian lapangan ini mengungkapkan bahwa pola pembuangan limbah tambang yang tidak terkendali menyebabkan zat kimia tersebut meresap ke dalam akuifer air tanah. HAKLI menekankan bahwa pembersihan merkuri dari tanah dan air adalah proses yang sangat sulit dan memakan biaya besar, sehingga pencegahan adalah langkah terbaik. Selama berada di Kawasan Tambang, tim HAKLI juga melakukan edukasi kepada para penambang mengenai bahaya uap merkuri dan limbah cair yang mereka hasilkan. Masyarakat perlu menyadari bahwa keuntungan ekonomi sesaat dari emas tidak sebanding dengan risiko cacat permanen atau kerusakan saraf yang bisa menimpa generasi mendatang di wilayah tersebut.

Selain pengujian pada air sumur, HAKLI Mataram juga menganalisis dampaknya terhadap kesehatan kulit dan sistem pencernaan warga. Air yang tercemar Merkuri jika digunakan untuk mandi secara terus-menerus dapat menyebabkan dermatitis, dan jika tertelan dapat merusak fungsi ginjal. Melalui pemetaan zona risiko, HAKLI memberikan rekomendasi kepada pemerintah daerah untuk menyediakan sumber air alternatif bagi desa-desa yang terbukti memiliki kadar merkuri melampaui ambang batas aman. Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya penegakan standar kesehatan lingkungan di wilayah NTB yang memiliki aktivitas pertambangan rakyat yang cukup masif.