Masalah kesehatan balita di Indonesia, khususnya terkait kegagalan pertumbuhan atau stunting, telah menjadi agenda nasional yang memerlukan penanganan lintas sektor. Di wilayah penyangga ibu kota seperti Bekasi, tantangan ini tidak hanya berkaitan dengan asupan gizi semata, tetapi sangat erat kaitannya dengan kondisi lingkungan tempat tinggal. Program cegah stunting di tahun 2026 kini menempatkan perbaikan infrastruktur dasar sebagai pilar utama. Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) cabang Bekasi menggarisbawahi bahwa nutrisi yang baik tidak akan terserap optimal jika anak terus-menerus terpapar infeksi yang disebabkan oleh sanitasi yang buruk.
Kaitan antara kondisi lingkungan dan pertumbuhan anak telah dibuktikan melalui berbagai studi epidemiologi. Infeksi berulang seperti diare dan cacingan, yang bersumber dari lingkungan tidak higienis, menyebabkan tubuh anak terpaksa menggunakan energi untuk melawan penyakit alih-alih untuk pertumbuhan tulang dan otak. Di sinilah peran sanitasi lingkungan menjadi krusial. Tenaga sanitarian di Bekasi melakukan intervensi langsung ke pemukiman padat penduduk untuk memastikan bahwa setiap rumah tangga memiliki akses terhadap air bersih dan sistem pembuangan kotoran yang memenuhi standar kesehatan. Tanpa jamban yang sehat, siklus kontaminasi tinja ke sumber air akan terus berlanjut dan mengancam kesehatan balita.
Para profesional dari HAKLI di wilayah Bekasi juga aktif dalam melakukan pemetaan area rawan stunting berdasarkan kualitas sanitasi. Di daerah yang memiliki tingkat kepadatan tinggi, risiko pencemaran air tanah sangat besar. Oleh karena itu, edukasi mengenai penggunaan tangki septik yang kedap air dan tidak bocor menjadi prioritas. Selain itu, pengelolaan limbah rumah tangga cair atau drainase yang tergenang juga menjadi perhatian. Drainase yang buruk dapat menjadi sarang kuman dan vektor penyakit yang secara tidak langsung memperburuk status kesehatan anak-anak di lingkungan tersebut.
Strategi yang diusung oleh HAKLI Bekasi melibatkan kolaborasi dengan posyandu dan kader kesehatan desa. Melalui pendekatan ini, literasi mengenai kebersihan tangan pakai sabun (CTPS) dan pengolahan air minum di tingkat rumah tangga disampaikan secara lebih personal kepada para ibu. Bekasi sebagai kota industri dengan dinamika mobilitas tinggi menuntut kesadaran mandiri dari masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan rumahnya masing-masing. Sanitarian bertindak sebagai konsultan teknis yang membantu warga menemukan solusi sanitasi yang murah namun efektif, seperti pembuatan saringan air sederhana atau pemanfaatan lahan sempit untuk area resapan.
