Seringkali, ketika kita melihat sampah menumpuk di tepi sungai atau terdampar di pantai, kita cenderung menganggap itu adalah masalah yang harus diselesaikan oleh pemerintah daerah atau dinas lingkungan hidup. Padahal, ekosistem air kita, baik sungai maupun laut, adalah tanggung jawab bersama. Kunci untuk pemulihan dan pelestarian lingkungan perairan adalah kesadaran dan tindakan nyata dari setiap individu untuk Menjaga Kebersihan area tersebut. Mengandalkan pihak lain tanpa mengubah kebiasaan pribadi hanya akan memastikan masalah ini terus berulang.
Penting untuk dipahami bahwa sebagian besar sampah yang berakhir di sungai dan laut berasal dari daratan, khususnya dari rumah tangga dan kegiatan sehari-hari di perkotaan. Sungai berfungsi sebagai “jalan raya” yang membawa limbah dari pusat kota menuju laut. Oleh karena itu, langkah pertama dalam Menjaga Kebersihan sungai dan pantai dimulai dari pengelolaan sampah domestik yang benar. Ini berarti memilah sampah di rumah, menghindari membuang sampah ke selokan atau gorong-gorong, dan memastikan semua sampah dibuang ke tempat yang semestinya agar dapat diangkut oleh petugas kebersihan.
Peran aktif kita dalam Menjaga Kebersihan tidak hanya terbatas pada tidak membuang sampah sembarangan, tetapi juga pada partisipasi dalam aksi nyata. Salah satu kegiatan yang paling berdampak adalah kegiatan bersih-bersih (clean-up) komunitas. Banyak kelompok relawan, termasuk siswa SMP, rutin mengadakan aksi pembersihan sungai dan pantai. Misalnya, Kelompok Peduli Lingkungan Remaja (KPLR) mengadakan kegiatan bersih-bersih sungai rutin setiap hari Sabtu pagi di minggu kedua setiap bulan, dimulai pukul 07.00. Partisipasi dalam kegiatan semacam ini membantu membersihkan polusi yang sudah ada dan juga meningkatkan kesadaran publik.
Selain membersihkan, kita harus cerdas dalam mengurangi polusi plastik sekali pakai. Plastik adalah polutan utama di perairan. Sebagian besar sampah plastik akan pecah menjadi mikroplastik yang berbahaya bagi kehidupan laut dan bahkan berpotensi masuk kembali ke rantai makanan manusia. Setiap orang dapat Menjaga Kebersihan dengan mengganti botol air minum sekali pakai dengan botol reusable, menolak sedotan plastik, dan membawa tas belanja sendiri.
Menurut data dari Lembaga Penelitian Kelautan, ditemukan bahwa 80% polusi laut di wilayah pesisir berasal dari aktivitas di darat. Dengan mengubah kebiasaan di tingkat rumah tangga, kita telah mengambil alih tanggung jawab dan membuktikan bahwa Menjaga Kebersihan sungai dan pantai adalah sebuah gerakan kolektif, bukan sekadar tugas yang dibebankan kepada pemerintah atau aparat.
