Kota Bekasi merupakan salah satu kawasan dengan kepadatan industri dan pemukiman tertinggi di Indonesia. Pertumbuhan ekonomi yang pesat ini membawa konsekuensi beban polutan yang besar terhadap badan air, terutama pada aliran Sungai yang melintasi wilayah tersebut. Salah satu ancaman yang paling berbahaya namun sulit dideteksi secara visual adalah keberadaan Logam Berat seperti merkuri (Hg), timbal (Pb), kadmium (Cd), dan kromium (Cr). Untuk mengawasi kualitas lingkungan ini, Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI Bekasi) menerapkan metode pengawasan berbasis Bio-Indikator, yaitu penggunaan organisme hidup sebagai penanda kualitas ekosistem perairan.

Metode Bio-Indikator dipilih karena parameter kimia air sungai sering kali berubah-ubah secara fluktuatif tergantung pada waktu pembuangan limbah. Sementara itu, organisme air seperti ikan, kerang, atau bentos (organisme dasar sungai) bersifat menetap dan menyerap polutan dalam jangka waktu lama. Melalui proses bioakumulasi, konsentrasi Logam Berat di dalam jaringan tubuh organisme ini dapat berlipat ganda dibandingkan konsentrasinya di dalam air. HAKLI Bekasi melakukan pengambilan sampel jaringan pada biota sungai untuk memetakan tingkat pencemaran yang sebenarnya, karena organisme ini bertindak sebagai “perekam” sejarah polusi di sungai tersebut.

Dampak dari keberadaan Logam Berat di dalam Sungai sangat fatal bagi kesehatan manusia, terutama bagi masyarakat yang masih memanfaatkan air sungai untuk kebutuhan harian atau mengonsumsi ikan yang ditangkap di sana. Logam timbal, misalnya, dapat merusak sistem saraf dan perkembangan otak pada anak-anak, sementara kadmium dapat menyebabkan kerusakan ginjal yang permanen. Melalui data dari Bio-Indikator, para ahli kesehatan lingkungan dapat memberikan peringatan dini jika kadar logam dalam biota sudah melampaui ambang batas konsumsi. Analisis ini jauh lebih akurat dalam mengukur risiko kesehatan masyarakat dibandingkan hanya mengandalkan sampel air sesaat.

Selain ikan, tanaman air seperti kangkung liar atau eceng gondok juga digunakan oleh HAKLI Bekasi sebagai instrumen Bio-Indikator. Tanaman ini memiliki kemampuan fitoremediasi, yaitu menyerap logam dari air dan menyimpannya di dalam akar atau daun. Jika hasil uji laboratorium menunjukkan kandungan logam yang tinggi pada tanaman tersebut, maka dapat dipastikan bahwa sedimen dasar Sungai telah tercemar parah. Sedimen merupakan “gudang” polutan yang dapat terlepas kembali ke kolom air jika terjadi pengadukan atau perubahan keasaman air, sehingga pengawasan secara berkala menjadi sangat vital bagi keamanan lingkungan Bekasi.