Pertanyaan mengenai mungkinkah mewujudkan Bekasi tanpa plastik mulai dijawab dengan langkah-langkah strategis di sektor publik. Kebijakan pelarangan kantong plastik di pusat perbelanjaan dan ritel modern memang sudah berjalan, namun tantangan terbesar berada pada konsistensi perilaku individu di lingkungan kerja dan institusi pendidikan. Transformasi ini membutuhkan edukasi yang tidak hanya bersifat instruktif, tetapi juga edukatif mengenai dampak mikroplastik bagi kesehatan manusia. Sampah plastik yang tidak terkelola dapat terfragmentasi menjadi partikel kecil yang masuk ke dalam rantai makanan, yang pada akhirnya berdampak buruk pada sistem endokrin dan kesehatan jangka panjang warga Bekasi.

Pelaksanaan sosialisasi HAKLI (Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia) difokuskan pada dua pilar utama, yaitu sektor pendidikan dan sektor formal perkantoran. Di lingkungan sekolah, para tenaga sanitarian memberikan pemahaman kepada siswa mengenai konsep Reduce, Reuse, dan Recycle (3R) dengan cara yang interaktif. Siswa diajarkan untuk membawa botol minum (tumbler) dan wadah makan sendiri dari rumah untuk mengurangi ketergantungan pada kemasan plastik sekali pakai di kantin sekolah. Edukasi ini sangat krusial karena menanamkan nilai-nilai kelestarian lingkungan sejak usia dini merupakan investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi masa depan yang lebih peduli pada kesehatan bumi.

Selain di institusi pendidikan, gerakan ini juga menyasar lingkungan sekolah dan perkantoran pemerintah maupun swasta di wilayah Bekasi. HAKLI mendorong pengelola gedung perkantoran untuk menyediakan fasilitas air minum isi ulang dan melarang penggunaan air minum dalam kemasan (AMDK) botol plastik dalam setiap rapat atau kegiatan internal. Kantor-kantor diajak untuk menerapkan prinsip “Kantor Ramah Lingkungan” atau Eco-Office, di mana pemilahan sampah dilakukan secara ketat di setiap lantai. Pendampingan teknis diberikan agar sampah plastik yang masih dihasilkan dapat disalurkan ke bank sampah terdekat untuk didaur ulang secara profesional, sehingga tidak berakhir di pembuangan akhir.

Peran aktif para sanitarian di lapangan mencakup pemberian materi mengenai bahaya pembakaran sampah plastik di lingkungan terbuka. Banyak warga yang masih menganggap membakar plastik adalah solusi praktis, padahal tindakan tersebut melepaskan zat dioksin dan furan yang bersifat karsinogenik (pemicu kanker). Sosialisasi ini memberikan alternatif solusi berupa pengelolaan sampah kreatif yang memiliki nilai ekonomi. Dengan mengubah pola pikir dari “membuang” menjadi “mengelola”, Bekasi perlahan mulai menunjukkan penurunan tren volume sampah plastik yang masuk ke drainase kota. Keberhasilan ini sangat bergantung pada keterlibatan kolektif seluruh elemen masyarakat tanpa terkecuali.