Masalah aroma tidak sedap yang muncul dari saluran pembuangan air atau drainase sering kali menjadi keluhan utama masyarakat yang tinggal di kawasan padat penduduk seperti Bekasi. Seiring dengan meningkatnya aktivitas domestik dan industri rumah tangga, beban organik yang masuk ke dalam saluran drainase sering kali melampaui kemampuan alam untuk melakukan pembersihan mandiri. Akibatnya, terjadi proses pembusukan anaerob yang menghasilkan gas hidrogen sulfida dan metana yang berbau menyengat. Menanggapi fenomena ini, Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) wilayah Bekasi memperkenalkan solusi biologis yang ramah lingkungan. Strategi utama yang diusung adalah upaya untuk atasi bau drainase dengan memanfaatkan teknologi mikroba pengurai atau yang sering dikenal sebagai Effective Microorganisms.

Langkah pertama dalam program untuk atasi bau drainase ini adalah dengan melakukan identifikasi terhadap titik-titik sumbatan sedimen organik. Para pakar kesehatan lingkungan dari HAKLI menjelaskan bahwa bau busuk biasanya bersumber dari akumulasi lemak, sisa makanan, dan limbah deterjen yang mengendap di dasar selokan. Penggunaan mikroba khusus dalam bentuk cair atau bubuk bertujuan untuk mempercepat proses dekomposisi bahan organik tersebut secara aerob. Mikroba ini bekerja dengan cara memecah rantai polimer kompleks menjadi senyawa yang lebih sederhana dan tidak berbau. Keunggulan metode ini dibandingkan penggunaan bahan kimia keras adalah sifatnya yang tidak merusak semen drainase serta tidak membahayakan ekosistem air yang lebih luas di hilir sungai.

Implementasi teknologi mikroba untuk atasi bau drainase di Bekasi dilakukan melalui pemberdayaan masyarakat di tingkat RT dan RW. HAKLI memberikan pelatihan mengenai cara pembuatan kultur mikroba mandiri menggunakan bahan-bahan sederhana seperti molase dan limbah buah. Cairan mikroba yang telah diaktivasi kemudian dituangkan secara berkala ke dalam saluran drainase pada waktu-waktu tertentu, biasanya saat debit air sedang rendah agar mikroba memiliki waktu kontak yang cukup untuk bekerja. Hasilnya mulai terlihat dalam waktu satu hingga dua minggu, di mana intensitas bau berkurang secara drastis dan air selokan tampak lebih jernih karena berkurangnya partikel tersuspensi yang membusuk.