Kota Bekasi sebagai salah satu penyangga utama ibu kota menghadapi tantangan luar biasa dalam pengelolaan sampah domestik, terutama jenis polimer yang sulit terurai. Dengan volume timbulan harian yang terus meningkat di TPA Sumur Batu, dibutuhkan solusi radikal yang melampaui sekadar metode kumpul-angkut-buang. Menanggapi situasi ini, HAKLI Bekasi mengkaji dan merekomendasikan sebuah inovasi infrastruktur hijau, yaitu penggunaan aspal campuran plastik. Teknologi ini dipandang sebagai jalan keluar cerdas untuk mengubah beban lingkungan menjadi aset pembangunan infrastruktur yang lebih tahan lama dan ekonomis.

Secara teknis, inovasi ini melibatkan pencampuran limbah plastik jenis polietilena (seperti kantong kresek bekas) yang telah dicacah ke dalam aspal panas. HAKLI menekankan bahwa penggunaan material ini bukan sekadar upaya pembuangan sampah ke dalam jalan raya, melainkan sebuah terobosan teknik sipil yang teruji. Plastik memiliki sifat termoplastik yang mampu meningkatkan titik lembek aspal, sehingga jalan tidak mudah retak atau bergelombang saat terpapar suhu ekstrem maupun beban kendaraan yang berat. Bagi wilayah dengan mobilitas tinggi seperti Bekasi, peningkatan durabilitas jalan adalah faktor kunci dalam efisiensi anggaran pemeliharaan infrastruktur kota.

Dampak positif terhadap kesehatan lingkungan menjadi fokus utama dari para ahli di HAKLI. Dengan menyerap ribuan ton sampah anorganik ke dalam proyek pengaspalan, potensi pencemaran tanah dan air akibat mikroplastik di Bekasi dapat ditekan secara signifikan. Limbah kota yang biasanya berakhir menyumbat saluran drainase dan memicu banjir kini memiliki nilai guna baru. Selain itu, proses pengolahan plastik menjadi campuran aspal dilakukan dengan kontrol suhu yang ketat untuk memastikan tidak ada emisi gas beracun yang terlepas ke udara, sehingga tetap aman bagi pekerja konstruksi maupun warga di sekitar lokasi proyek.

Strategi yang diusung oleh HAKLI Bekasi juga mencakup pemberdayaan ekonomi sirkular melalui bank sampah. Plastik yang digunakan sebagai campuran aspal harus memenuhi kriteria bersih dan kering, yang artinya masyarakat didorong untuk melakukan pemilahan dari sumbernya. Dengan adanya permintaan material plastik untuk pembangunan jalan, nilai ekonomi sampah plastik akan meningkat, yang secara otomatis memotivasi warga untuk lebih aktif dalam program kurangi limbah di tingkat rumah tangga. Inilah sinergi antara pembangunan fisik dan edukasi kesadaran lingkungan yang diharapkan mampu mengubah wajah kota menjadi lebih bersih dan tertata.