Saluran air di kawasan perkotaan sering kali dianggap sebagai bagian dari infrastruktur yang “tidak terlihat” hingga masalah besar muncul ke permukaan. Di kota industri dan pemukiman padat seperti Bekasi, sistem drainase memegang peranan vital dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Namun, pernahkah kita bertanya-tanya mengenai materi apa saja yang mengumpul di bagian terdalam sistem tersebut? Melalui serangkaian observasi lapangan, HAKLI Bekasi mencoba mengungkap fakta di balik dasar saluran air yang sering kali menjadi sumber masalah sanitasi kronis. Apa yang ditemukan di sana bukan sekadar air kotor, melainkan akumulasi dari berbagai material yang mencerminkan pola hidup masyarakat perkotaan.
Secara fisik, bagian dasar dari saluran drainase biasanya tertutup oleh lapisan tebal yang dikenal sebagai sedimen. Namun, temuan HAKLI Bekasi menunjukkan bahwa fakta endapan ini jauh lebih kompleks daripada sekadar tanah atau lumpur alami. Endapan tersebut terdiri dari campuran limbah domestik, partikel mikroplastik, hingga residu minyak dan lemak (grease) yang mengeras seperti batu. Ketika limbah dapur dibuang langsung ke selokan tanpa melalui bak kontrol lemak, minyak tersebut akan mendingin dan mengikat partikel padat lainnya di dasar saluran. Proses ini menciptakan lapisan kedap air yang mengurangi kapasitas tampung saluran secara drastis, yang pada akhirnya memicu banjir meski curah hujan tidak terlalu tinggi.
Dampak dari akumulasi materi di dasar saluran air ini tidak hanya bersifat mekanis terhadap aliran air, tetapi juga biologis. Endapan yang kaya akan bahan organik menjadi tempat berkembang biak yang sangat ideal bagi mikroorganisme patogen dan vektor penyakit. HAKLI Bekasi menyoroti bahwa bakteri anaerob yang hidup di lapisan bawah endapan menghasilkan gas hidrogen sulfida ($H_2S$) dan metana yang berbau menyengat. Gas-gas ini tidak hanya mengganggu kenyamanan udara di sekitar pemukiman, tetapi juga menunjukkan adanya proses pembusukan yang tidak sehat yang dapat mencemari sumur dangkal milik warga di sekitarnya melalui proses perembesan tanah.
Selain limbah organik, fakta endapan di Bekasi juga sering kali mengandung logam berat sisa aktivitas bengkel atau industri kecil yang tidak mengelola limbahnya dengan benar. Materi berbahaya ini mengendap dan terikat dalam lumpur di dasar selokan. Saat terjadi pembersihan saluran secara manual, lumpur tersebut sering kali hanya diletakkan di pinggir jalan, yang mana saat kering dapat berubah menjadi debu beracun yang terhirup oleh warga. Oleh karena itu, pengelolaan endapan di saluran air memerlukan prosedur yang lebih komprehensif daripada sekadar pengerukan biasa; diperlukan penanganan limbah yang terintegrasi sejak dari sumbernya.
