Kegiatan yang bertajuk aksi bersih pantai ini bukan sekadar aktivitas seremonial memungut sampah di atas pasir. Ini adalah sebuah upaya restorasi lingkungan yang melibatkan ribuan relawan dari berbagai elemen masyarakat, mulai dari aktivis lingkungan, mahasiswa, hingga komunitas nelayan lokal yang paling merasakan dampak buruk pencemaran laut. Fokus utama dari gerakan ini adalah untuk menyatakan perang lawan sampah plastik, mengingat plastik adalah polutan yang paling sulit terurai dan kini telah mencapai tahap mengkhawatirkan dengan terbentuknya mikroplastik yang masuk ke dalam jaringan tubuh biota laut.

Gerakan yang digerakkan oleh HAKLI Bekasi ini menekankan pada pentingnya pembersihan yang terukur dan edukatif. Sampah-sampah yang dikumpulkan dari sepanjang pantai Muara Gembong dan sekitarnya tidak hanya dibuang ke TPA, tetapi dilakukan audit sampah untuk memetakan jenis polutan apa yang paling banyak mencemari laut Bekasi. Dengan data ini, para ahli kesehatan lingkungan dapat merumuskan kebijakan yang lebih tepat sasaran di tingkat hulu, yaitu di wilayah pemukiman dan industri yang menjadi sumber sampah tersebut. Pendidikan mengenai sanitasi pesisir menjadi materi krusial yang diberikan kepada masyarakat nelayan agar mereka tidak lagi menjadikan laut sebagai tempat pembuangan akhir bagi limbah rumah tangga mereka.

Tahun 2026 menjadi momentum krusial karena tuntutan global terhadap pelestarian laut semakin tinggi. Sampah plastik, mulai dari sedotan, kantong belanja, hingga bungkus sachet, telah terbukti merusak hutan mangrove yang menjadi benteng alami Bekasi dari abrasi. Melalui aksi bersih-bersih ini, relawan juga melakukan penanaman kembali bibit bakau di area-area yang telah dibersihkan. Sinergi antara pembersihan sampah dan penghijauan kembali pesisir menciptakan ekosistem yang lebih tangguh terhadap perubahan iklim. Bekasi ingin membuktikan bahwa kota industri pun mampu memiliki garis pantai yang bersih dan produktif jika warganya memiliki kesadaran ekologis yang tinggi.

Dampak dari gerakan ini mulai dirasakan oleh masyarakat setempat. Pantai yang bersih dari sampah plastik tidak hanya lebih sehat bagi ekosistem, tetapi juga meningkatkan nilai estetika dan potensi pariwisata bahari lokal. Nelayan melaporkan bahwa area tangkapan mereka menjadi lebih bersih dan risiko kerusakan mesin kapal akibat terjerat sampah plastik di laut berkurang drastis. Selain itu, aksi ini juga melibatkan sektor swasta melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), di mana beberapa pabrik besar di Bekasi mulai berkontribusi menyediakan alat pengolah sampah plastik menjadi bahan bakar atau produk daur ulang lainnya di sekitar lokasi pantai.